Menguatkan Indonesia dari Garis Terdepan: Perbatasan Bukan Lagi Daerah Pinggiran

Oleh: Sahrin Hamid, Ketua Umum Gerakan Rakyat

Perjalanan menuju Merauke memberikan satu kesadaran penting: Indonesia tidak hanya dibangun dari pusat kekuasaan dan kota-kota besar, tetapi juga dari wilayah-wilayah yang berdiri di garis terdepan kedaulatan. Dari Jakarta menuju Jayapura, lalu melanjutkan penerbangan ke Merauke, perjalanan panjang itu seakan menjadi simbol jarak yang selama ini terasa antara pusat dan daerah. Namun jarak geografis tidak boleh berubah menjadi jarak perhatian.

Merauke adalah wajah Indonesia di ujung timur. Ia bukan sekadar titik di peta atau batas administratif, melainkan simbol harga diri bangsa. Jika wilayah perbatasan tertinggal, maka sesungguhnya kita sedang membiarkan fondasi negara melemah. Karena itu, sudah waktunya kita mengubah cara pandang: perbatasan harus menjadi prioritas strategis, bukan pelengkap kebijakan.

Sesampainya di Merauke, semangat masyarakat begitu terasa. Sambutan hangat dari jajaran Gerakan Rakyat Papua Selatan menunjukkan optimisme yang tetap menyala. Kami mengawali kunjungan dengan mendatangi Pasar Merauke, pusat aktivitas ekonomi rakyat.

Di sana, mama-mama Papua berdiri sebagai penggerak ekonomi keluarga. Mereka menjual hasil kebun dan kebutuhan pokok dengan ketekunan luar biasa. Setiap dagangan yang tersusun rapi mencerminkan kerja keras dan harapan. Kami membeli dagangan mereka sebagai bentuk dukungan nyata. Namun lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah kebijakan yang benar-benar berpihak: akses permodalan yang mudah, perlindungan pasar tradisional, stabilitas harga, serta pendampingan usaha kecil agar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Kami juga berbincang dengan sejumlah pemuda yang bekerja sebagai tukang parkir dan pekerja informal lainnya. Mereka menyampaikan harapan sederhana: kesempatan kerja yang layak. Generasi muda Merauke memiliki energi dan potensi besar. Mereka tidak ingin terus berada di sektor informal tanpa kepastian. Mereka ingin dilibatkan dalam pembangunan daerahnya sendiri. Pemerintah perlu membuka lebih banyak program pelatihan vokasi, mendorong investasi berbasis potensi lokal, serta menciptakan lapangan kerja yang berkelanjutan.

Kunjungan dilanjutkan ke kampung nelayan. Di pesisir, para nelayan tampak memperbaiki jaring dan perahu sebelum melaut. Laut adalah sumber kehidupan yang menjanjikan, tetapi tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, hasilnya belum optimal. Dermaga yang layak, fasilitas penyimpanan ikan, dan akses distribusi yang efisien dapat meningkatkan pendapatan mereka secara signifikan. Potensi perikanan Merauke sangat besar, dan sudah seharusnya menjadi salah satu pilar ekonomi daerah.

Kami juga menyempatkan diri bertemu dengan anak-anak yang belajar di ruang sederhana. Wajah mereka memancarkan semangat dan rasa ingin tahu. Kami membagikan buku dan alat tulis, tetapi yang paling penting adalah memastikan mereka mendapatkan akses pendidikan yang setara dengan daerah lain di Indonesia. Pendidikan adalah kunci untuk memutus mata rantai ketimpangan. Tanpa investasi serius di sektor ini, kita akan terus menghadapi kesenjangan antarwilayah.

Di Kampung Payung, warga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan menanam mangrove untuk mencegah abrasi pantai. Upaya swadaya ini patut diapresiasi. Mereka memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan generasi berikutnya. Kami turut membeli dan menanam ratusan bibit mangrove bersama warga sebagai simbol komitmen terhadap pembangunan yang berkelanjutan. Pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kelestarian lingkungan.

Meski semangat masyarakat begitu kuat, tantangan nyata masih terlihat. Beberapa rumah belum memenuhi standar kelayakan. Fasilitas publik terbatas. Akses terhadap pendidikan dan layanan dasar masih perlu ditingkatkan. Aspirasi tentang kehadiran sekolah rakyat menjadi bukti bahwa masyarakat menginginkan solusi konkret, bukan sekadar janji.

Saat berdiri di KM 0 Merauke, terasa bahwa titik tersebut bukan hanya penanda geografis, melainkan simbol bahwa Indonesia dimulai dari sini. Jika wilayah terdepan ini tidak diperkuat, maka ketahanan nasional akan rapuh. Pembangunan yang terpusat di wilayah tertentu saja akan memperlebar jurang ketimpangan.

Karena itu, paradigma pembangunan harus berubah. Perbatasan harus ditempatkan sebagai kawasan strategis yang mendapatkan perhatian serius dan berkelanjutan. Pemerintah pusat dan daerah perlu bersinergi dalam merancang kebijakan terpadu yang mencakup penguatan ekonomi rakyat, pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan kualitas pendidikan, serta perlindungan lingkungan.

Kehadiran negara harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Apakah pemuda memiliki pekerjaan yang layak? Apakah nelayan mendapatkan harga jual yang adil? Apakah pedagang kecil memperoleh perlindungan? Apakah anak-anak belajar di ruang yang aman dan nyaman? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan pembangunan.

Indonesia akan kokoh jika perbatasannya kuat. Indonesia akan maju jika pembangunan dilakukan secara adil dan merata. Kita tidak boleh membiarkan wilayah terdepan berjalan sendiri tanpa dukungan maksimal. Membangun Merauke dan wilayah perbatasan lainnya berarti memperkuat fondasi bangsa secara menyeluruh.

Pesan dari perjalanan ini sangat jelas: jangan lagi memandang perbatasan sebagai daerah pinggiran. Justru dari sinilah kedaulatan dan harga diri bangsa dijaga setiap hari. Jika kita ingin Indonesia yang tangguh dan bermartabat, maka kita harus mulai dari garis terdepan.

Saatnya memastikan bahwa pembangunan tidak berhenti di pusat, tetapi menjangkau hingga ke ujung timur negeri. Saatnya menghadirkan keadilan sosial yang nyata bagi seluruh rakyat Indonesia. Perbatasan bukan beban, melainkan kekuatan. Dan dari Merauke, kita diingatkan bahwa masa depan Indonesia harus dibangun secara menyeluruh, dari timur hingga barat.